Saat kubuka pelipis mata,
aku sadar aku terluka
Rata hati yang telah retak
Jatuh hati tak lagi berdetak,
memperbaiki diri jadi obat 'katanya'.
Sudahlah, mari jangan gegabah, ambil langkah demi langkah.
Mulai dengan sebuah senyuman.
Beginilah kebahagiaanku jadi nyata..
Maksudku topeng indahku tertata.
Aku mulai menutup luka-luka dengan dusta
Ya, dustanya kicauan burung Beo
Kesana-sini antusias, layaknya pinokio
Aku berhasil menjadi penawar bagi mereka
Ya, yang mengisi kosongnya pandangan manusia
Sepak-terjang tak terlihat demi senyuman
Saat kembali ke dalam zona nyamanku,
ialah ruangan gelap dalam pondok kecilku.
Saat aku tak melihat retina mata yang berhayal pribadi "baik" itu.
Aku tersadar bahwa aku sudah lari terlalu jauh.
Aku bukan aku.
Aku adalah dia yang terbayang di sukma kalbu
yang penuh bunga dan cerah warnanya.
Aku lupa menyiram dan memupuknya agar aku menjadi indah.
Jadilah aku 'si haus kebahagiaan'
Begitu kata si penulis diary ini.
Aku mengisi penuh kebahagiaan mereka,
aku mengosongkan kebahagiaan 'jiwa'ku
Aku lupa cara untuk menikmati dan berharap menjadi korban
Aku kehabisan sosok siap sedia disebelahku karena aku sudah disebelah mereka.
Sadar diri, diri bingung.
Begitulah 'jiwa' ini
Solusi? Aku masih tersesat.
Oleh karena itu, seseorang tolong aku.
Yakinkan aku punya ruang untuk menjadi 'jiwa'ku, bukan 'topeng'ku.
Inilah diary si 'haus kebahagiaan' ini.